Tikus dan Rayap Dompu Sukses "Melahap" 2 Ton Beras Zakat dalam Semalam?

DOMPU — Dunia medis dan biologi tampaknya harus segera mengirim tim peneliti ke Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Baru-baru ini, sebuah fenomena supranatural—atau mungkin mukjizat metabolisme—terjadi di gudang penyimpanan milik Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) setempat. Lebih dari dua ton beras bantuan yang sedianya mengenyangkan perut masyarakat miskin dan santri, dilaporkan raib tanpa bekas.
Alasan resminya? Diduga kuat habis ludes dimakan oleh koloni tikus dan rayap.
Ya, Anda tidak salah baca. Bukan amblas digondol maling karungan, melainkan murni karena "pesta pora" satwa liar penunggu gudang.
Rekor Dunia: Tikus Berotot dan Rayap Pemakan Karung
Jika melihat visual ilustrasi yang beredar luas di jagat maya, penampakan hama di gudang tersebut tampaknya bukan sembarang hama. Netizen berspekulasi bahwa tikus yang mendiami gudang tersebut memiliki ukuran setara kambing jantan, lengkap dengan barisan gigi berlapis intan yang mampu mengunyah anyaman karung plastik tebal dalam hitungan detik.
Tidak mau kalah, rayap-rayap di Dompu juga diduga telah bermutasi genetik. Jika biasanya mereka hanya doyan memakan kusen kayu lapuk atau buku-buku skripsi lama, kali ini mereka naik kelas menjadi pencinta karbohidrat garis keras. Dua ton beras habis terjual ke dalam lambung-lambung kecil mereka. Sebuah pencapaian logistik yang bahkan membuat pengusaha mukbang di YouTube merasa minder.
Netizen: "Mungkin Tikusnya Punya Kartu Keluarga"
Sontak saja, klaim "habis dimakan tikus dan rayap" ini memicu gelombang tawa sekaligus elus dada dari masyarakat. Banyak yang menyindir bahwa tikus-tikus di gudang Baznas Dompu kemungkinan besar sudah mendaftarkan diri sebagai penerima manfaat resmi, atau minimal memiliki Kartu Keluarga (KK) terverifikasi agar bisa mendapatkan jatah beras ton-tonan.
Sebagian warga lain justru merasa iba pada sang tikus dan rayap. Hewan-hewan pengerat itu kini terpaksa menyandang status sebagai "kambing hitam" terbesar abad ini, menanggung beban dosa ekologis atas hilangnya pasokan pangan bernilai jutaan rupiah.
Akhirnya Berurusan dengan Polisi
Untungnya, pihak penegak hukum tidak serta-merta mempercayai dongeng fabel "Tikus Sang Serakah" ini. Karena kehilangan logistik dalam jumlah masif ini dinilai sangat tidak masuk akal sehat, kasus ini telah resmi dilaporkan ke pihak kepolisian.
Kini, publik tinggal menunggu hasil penyelidikan resmi. Apakah polisi akan berhasil menemukan dalang intelektual berpakaian rapi di balik hilangnya beras tersebut, atau justru pihak berwajib terpaksa merilis Daftar Pencarian Orang (DPO) khusus untuk gerombolan tikus dan rayap pembawa karung? Kita tunggu saja episode selanjutnya dari komedi logistik ini.
- Art
- Business
- Cryptocurrency
- Culture
- Education
- Film
- Finance
- History
- Hobbies
- Humor
- Health
- Music
- News
- Opinion
- Personal
- Politics
- Spirituality
- Sports
- Storytelling
- Technology
- Tutorials
- Web Development