Kali ini, Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin, melontarkan sebuah ide brilian yang dijamin membuat para ahli ekonomi dunia langsung sungkem: mengajak masyarakat yang mampu untuk menyumbangkan sebagian hartanya demi menyokong program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini diambil setelah menyadari sebuah kenyataan pahit bahwa dompet negara alias APBN ternyata tidak se-tebal dompet para influencer pamer saham. Daripada pusing memikirkan bagaimana cara mengelola anggaran atau memotong pos-pos dinas luar kota yang krusial bagi kesejahteraan pariwisata hotel bintang lima, pemerintah ditawarkan solusi paling klasik dalam sejarah bangsa: Gotong Royong.
Zakat, Sedekah, dan 'Kotak Amal' Nasional
Skema yang dibayangkan pun sangat menyentuh hati. Alih-alih mengandalkan skema pajak konvensional—yang entah kenapa sering kali habis sebelum sampai ke piring rakyat—skema pendanaan MBG ini diusulkan memanfaatkan jalur dana sosial keagamaan. Mulai dari zakat, sedekah, hingga mungkin saja di masa depan kita akan melihat kotak amal keliling di lampu merah bertuliskan: "Koin untuk Susu Gratis".
Bayangkan indahnya pemandangan masa depan. Saat Anda sedang makan di warteg, tiba-tiba ada pengamen yang lewat bukan meminta uang untuk dirinya sendiri, melainkan membawa QRIS resmi dari Badan Gizi Nasional. Sebuah bentuk kedermawanan hakiki, di mana rakyat yang belum tentu makan bergizi, menyumbang uang agar rakyat lain bisa makan bergizi secara "gratis" dari pemerintah.
Subsidi Silang dari Rakyat, oleh Rakyat, untuk Pemerintah
Para netizen tentu saja langsung menyambut ide ini dengan keriuhan yang luar biasa. Banyak yang memuji bahwa ini adalah penerapan sistem ekonomi paling murni di dunia: Subsidi Silang Tanpa Perantara Negara.
Kritik-kritik usil yang mengatakan bahwa "Tugas negara adalah mengelola pajak untuk fasilitas publik" langsung patah oleh argumen gotong royong ini. Lagipula, untuk apa mempermasalahkan ke mana perginya uang pajak operasional mobil mewah pejabat, jika kita masih punya sisa beberapa puluh ribu rupiah di rekening untuk disumbangkan ke program nasional?
Jika tren ini berhasil, bukan tidak mungkin ke depannya kita akan melihat program-program inovatif lainnya, seperti:
- Patungan Aspal Jalan: Warga iuran beli semen karena dinas terkait kehabisan anggaran.
- Arisan Jet Tempur: Gotong royong beli alutsista demi keren di langit.
- Crowdfunding Gaji Anggota Dewan: Biar kinerja mereka semakin semangat dalam melahirkan ide-ide sekreatif ini.
Menuju Indonesia Emas (atau Indonesia Cemas)
Pada akhirnya, usulan ini mengajarkan kita satu hal penting tentang ketahanan mental. Menjadi warga negara yang baik di era sekarang tidak cukup hanya dengan taat membayar pajak, tapi juga harus siap menjadi Angel Investor bagi program-program pemerintah yang salah hitung anggaran.
Mari kita siapkan dompet kita masing-masing. Sebab di balik label program "Gratis" dari pemerintah, selalu ada dompet rakyat yang siap siaga menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.
