Aksi tersebut menjadi sorotan setelah video kedatangan para investor beredar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, para investor menyampaikan kekecewaan karena dapur yang telah dibangun dengan nilai investasi mencapai miliaran rupiah hingga kini belum beroperasi.
Pesquisar
Conheça novas pessoas, crie conexões e faça novos amigos
-
Sejumlah investor yang telah membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) mendatangi kantor pusat Badan Gizi Nasional di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, untuk meminta kejelasan terkait kelanjutan operasional dapur yang telah mereka bangun.Sejumlah investor yang telah membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) mendatangi kantor pusat Badan Gizi Nasional di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, untuk meminta kejelasan terkait kelanjutan operasional dapur yang telah mereka bangun.Aksi tersebut menjadi sorotan setelah video kedatangan para investor beredar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, para investor menyampaikan kekecewaan karena dapur yang telah dibangun dengan nilai investasi mencapai miliaran rupiah hingga kini belum beroperasi.Sumber : https://www.saibumi.com/artikel-138846-dapur-mbg-di-wilayah-3t-belum-beroperasi-investor-geruduk-kantor-bgn.html0 Comentários 0 Compartilhamentos 43 Visualizações 11 0 AnteriorFaça o login para curtir, compartilhar e comentar!
-
Sejarah Pacaran
1. Zaman pra-modern: Perkawinan diatur keluarga
Di hampir semua peradaban kuno, “pacaran” kayak sekarang nggak ada.
- *Tujuannya praktis*: aliansi antar keluarga, warisan, ekonomi, politik.
- *Contoh*: Di Romawi kuno ada _arranged marriage_. Di Jawa kuno dan kerajaan Nusantara juga banyak perjodohan bangsawan.
- *Kontak romantis* biasanya disembunyikan. Yang ada itu tradisi sastra cinta, pantun, tembang, tapi interaksi langsung terbatas banget.
2. Abad Pertengahan - Eropa: Cinta ksatria & surat-suratan
Muncul konsep _courtly love_ di abad 12-13.
- Ksatria menyatakan cinta ke bangsawan wanita lewat puisi, nyanyi, hadiah.
- Tetap nggak boleh langsung ketemu berdua. Komunikasi lewat perantara, surat, atau pertemuan di acara resmi.
- Ini cikal bakal ide “merayu” dan “menaklukkan hati” yang masih kepake sampe sekarang.
3. Abad 18-19: Era “courting” / berpacaran resmi
Revolusi Industri bikin anak muda pindah ke kota, kerja di pabrik, punya waktu dan uang sendiri.
- Di Indonesia, masa ini masuk ke zaman kolonial. Kaum priyayi mulai kenal surat cinta dan pertemuan terbatas di pesta.
4. Awal abad 20: Lahirnya “dating” modern
Istilah “dating” muncul di AS sekitar tahun 1920-an.
- Mobil jadi game changer. Anak muda bisa ketemu berdua tanpa diawasi keluarga.
- Bioskop, kafe, dance hall jadi tempat nongkrong.
- Standarnya bergeser: pacaran jadi ajang seleksi pasangan, bukan langsung lamaran. Tapi tekanan sosial buat nikah muda masih kuat.
5. 1960-an - 1990-an: Revolusi seksual & pacaran santai
- Pil KB, gerakan feminisme, budaya pop bikin norma seks pranikah lebih longgar di Barat.
- Pacaran jadi lebih ke “eksplorasi diri”, bukan cuma persiapan nikah.
- Di Indonesia, pengaruhnya masuk lewat film, musik, TV. Tapi norma agama dan keluarga masih jadi batas kuat. Istilah “pacaran” jadi populer menggantikan “berkencan”.
6. 2000-an - sekarang: Era digital
- *SMS, BBM, FB, IG, Tinder*: seleksi dan pendekatan jadi lebih cepat, jangkauannya lebih luas.
Sejarah Pacaran 1. Zaman pra-modern: Perkawinan diatur keluargaDi hampir semua peradaban kuno, “pacaran” kayak sekarang nggak ada. - *Tujuannya praktis*: aliansi antar keluarga, warisan, ekonomi, politik. - *Contoh*: Di Romawi kuno ada _arranged marriage_. Di Jawa kuno dan kerajaan Nusantara juga banyak perjodohan bangsawan.- *Kontak romantis* biasanya disembunyikan. Yang ada itu tradisi sastra cinta, pantun, tembang, tapi interaksi langsung terbatas banget.2. Abad Pertengahan - Eropa: Cinta ksatria & surat-suratanMuncul konsep _courtly love_ di abad 12-13. - Ksatria menyatakan cinta ke bangsawan wanita lewat puisi, nyanyi, hadiah. - Tetap nggak boleh langsung ketemu berdua. Komunikasi lewat perantara, surat, atau pertemuan di acara resmi.- Ini cikal bakal ide “merayu” dan “menaklukkan hati” yang masih kepake sampe sekarang.3. Abad 18-19: Era “courting” / berpacaran resmiRevolusi Industri bikin anak muda pindah ke kota, kerja di pabrik, punya waktu dan uang sendiri. - Di Indonesia, masa ini masuk ke zaman kolonial. Kaum priyayi mulai kenal surat cinta dan pertemuan terbatas di pesta.4. Awal abad 20: Lahirnya “dating” modernIstilah “dating” muncul di AS sekitar tahun 1920-an. - Mobil jadi game changer. Anak muda bisa ketemu berdua tanpa diawasi keluarga.- Bioskop, kafe, dance hall jadi tempat nongkrong. - Standarnya bergeser: pacaran jadi ajang seleksi pasangan, bukan langsung lamaran. Tapi tekanan sosial buat nikah muda masih kuat.5. 1960-an - 1990-an: Revolusi seksual & pacaran santai- Pil KB, gerakan feminisme, budaya pop bikin norma seks pranikah lebih longgar di Barat.- Pacaran jadi lebih ke “eksplorasi diri”, bukan cuma persiapan nikah.- Di Indonesia, pengaruhnya masuk lewat film, musik, TV. Tapi norma agama dan keluarga masih jadi batas kuat. Istilah “pacaran” jadi populer menggantikan “berkencan”.6. 2000-an - sekarang: Era digital- *SMS, BBM, FB, IG, Tinder*: seleksi dan pendekatan jadi lebih cepat, jangkauannya lebih luas.0 Comentários 0 Compartilhamentos 96 Visualizações 0 Anterior